Minggu, 12 September 2010

Mau Kemana Lagi Aku?


 “Mau ngelanjut ke mana nanti setelah tamat SMA?”.
Mungkin kata-kata ini sangat bersahabat buat anak-anak SMA yang berada di kelas XII. Tanpa kita sadari, hal ini juga lah yang  menuntut setiap lulusan SMA untuk mulai belajar menentukan pilihan untuk hidupnya ke depan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa masa-masa peralihan dari SMA ke jenjang berikutnya adalah pintu awal untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kuliah atau bekerja?

Banyak siswa yang terlalu terlena dengan kondisi sekolah, dan tidak sedikit pula yang kewalahan untuk menemukan jawaban ‘Mau kemana lagi aku?’ setelah tamat dari jenjang SMA. Mengikuti ujian masuk perguruan tinggi hanya menjadi angin yang akan membawakan kaki kemana melangkah. Asal lulus saja, aku akan mengambilnya. Tak jarang pula, mantan siswa menjadi linglung, hanya karena jurusan itu bukan jurusan minatnya.

Pilihan hanya dua saat salah masuk ruang jurusan, maju melawan arus dan berjuang keras atau menyerah dengan kerat pintu dan mencoba lagi ketidakpastian yang akan ditawarkan. Bahkan trend ikut arus dijadikan alasan seseorang untuk masuk ke dalam jurusan di Perguruan Tinggi, “Si A setelah tamat dari jurusan itu, jadi orang kaya, sukses lagi.”

Kurangnya penanaman pentingnya long time planning setelah tamat SMA inilah yang menyebabkan calon orang tidak memiliki panduan hidup. Waktu yang dikatakan terlalu singkat juga sering dikambinghitamkan agar persiapannya yang minim dapat menang dalam sekejap. Saat perpindahan dari celana biru pendek ke jenjang celana abu-abu panjang, pada saat itu jugalah harusnya kita membuat long time planning setelah tamat SMA. Jadi apapun kita, tanpa persiapan sama saja seperti bulu yang diterbangkan angin, sebentar disini, sebentar disana, lalu hilang lenyap.

Rabu, 11 Agustus 2010

Bung Karno Putra Sang Fajar

“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri. Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir. Soekarno menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.
Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno, 44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.

Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno.

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Fase pertama pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1959) diwarnai semangat revolusioner, serta dipenuhi kemelut politik dan keamanan. Belum genap setahun menganut sistem presidensial sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945, pemerintahan Bung Karno tergelincir ke sistem semi parlementer. Pada fase kedua kepemimpinannya, 1959-1967, Bung Karno menerapkan demokrasi terpimpin. Semua anggota DPRGR dan MPRS diangkat untuk mendukung program pemerintahannya yang lebih fokus pada bidang politik. Bung Karno berusaha keras menggiring partai-partai politik ke dalam ideologisasi NASAKOM—Nasional, Agama dan Komunis.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pemberontakan G-30-S/PKI yang melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatan Bung Karno yang saat itu terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi". (Dari berbagai sumber)

Senin, 09 Agustus 2010

Lemahku, KAU kuatku

Bapa kuperlu Engkau
Aku selalu terjatuh dan terhilang
Takkan mampu kuberjalan sendiri
Terlalu lemah untuk melangkah seorang diri
Tapi satu hal yang pasti
Jalanku takkan sesulit yang kubayangkan
Karena kuyakin Allah besertaku
Memegang erat tanganku
Memberi hidup dan ketenangan
Hidupku itulah persembahanku di hadiratMu
Hidup yang Allah berikan kepadaku
Akan kukembalikan untuk Allahku
Untuk kemuliaan namaMu, Bapa

Rio Salomo Sidauruk
15 Juli 2009
10 A.M

Ketika hidup itu mulai dipertanyakan

Berawal dari sebuah tapak kaki yang melangkah tanpa tujuan, dan berharap angin yang berhembus dapat turut serta dalam menentukan arah langkah itu. Mengenal hidup yang dielu-elukan memiliki makna yang luar biasa. Makna? Tujuan? Mana yang lebih dahulu ditemukan? Apakah memiliki tujuan hidup yang akan memberikan makna pada hidup? Ataukah hidup yang bermakna akan menemukan tujuannya?
Merasa memiliki tujuan, tapi tak mengerti tujuan apa yang dimaksud. Dianggap merasa bahagia, namun tak ada tawa, bahkan setitik senyum simpul tak tergores. Tak mampu meneriakkan gejolak jiwa, benda asing seakan menyumbat teriakan itu. Tak berani untuk maju, tak mungkin untuk mundur. Dunia yang berputar seolah-olah berhenti, tanpa menghentikan jutaan ucapan yang merendahkan yang terlontar “tanpa disengaja”. Bukankah hal itu dilakukan “tanpa sengaja”? Mengapa harus dipersoalkan? Mengapa harus dipermasalahkan? Tapi… Benarkah hal itu terjadi “tanpa disengaja”?
Kata orang “Masalah yang ada membuat hidup semakin dewasa”. Kedewasaan seperti apa yang dimaksud? Merasa bodoh, tanpa sempat merasakan kedewasaan yang dimaksud. Bertanya pada orang lain hanya berujung malu. Mencoba berdiam diri terbawa pada kebingungan tak berujung. Jadi, apa yang harus dilakukan? Lelah tak menentu, tak mampu menjawab, tak menerima jawaban.
Dunia ini kompleks dan dunia ini simpel. Bukankah hal itu tidak saling mendukung? Tapi mengapa hal tersebut seakan memiliki makna yang tersirat? Makna seperti apa yang dimaksud? Semakin tidak mampu memahami arti hidup. Apakah hidup memang terlalu sulit untuk dipahami? Atau sebenarnya hidup ini terlalu simpel untuk dipahami oleh si pelaku?
Rio Salomo Sidauruk
12 April 2009
11 P.M