Senin, 01 Agustus 2011

Bersinarlah Dian!

Sudah sepatutnyalah semua anak kebanggaan bangsa dapat mengecap aroma masa anak-anak miliknya. Merasakan indahnya pemandangan pendidikan usia dini, menikmati indahnya kehidupan riang seorang anak tanpa harus ada beban yang harus dipikulnya. Tapi tidak semua tunas muda bangsa dapat menjejaki masa itu, bahkan mereka dipaksa untuk lompat ke masa yang tidak sepatutnya dikecap untuk usia sedini itu. Tapi apa? Mereka jauh lebih tangguh dari pribadi yang dari segi usia jauh diatas mereka dan pribadi yang selalu mengumandangkan bahwa ‘aku adalah dewasa’!

Ketika orang tua tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan jasmani secara utuh, merekalah yang harus ikut menanggung beban itu. Merasakan pahit dan kerasnya getir hidup yang mungkin mereka anggap hanya sebagai ‘kerikil kecil’ dan bukan sebagai ‘batu sungai’. Ketika keluhan itu terlontar, teguh dan tabahlah hati demi kelangsungan hidup. Tidak jelas apakah tangisan pernah jatuh dari mata atau hanya tertetes dalam hati terdalam. Hidup keras mengajarkan sosok keras seorang anak.

Tapi, kekerasan hidup tidak ikut serta mengubur impian mereka. Hanya keyakinan dan ketangguhan yang menggerakkan kaki mereka untuk terus meraih impian mereka. Mungkin, bagi sebagian orang berkata “Apa mungkin bisa? Dengan kondisi yang begitu?”. Tapi bagi segilintir orang mampu berkata KAMU PASTI BISA!. Dorongan ini yang dibutuhkan mereka, bukan sebuah senyuman sinis dan meruntuhkan impian mereka. Ya, mereka yang hanya hidup di daerah kumuh perkotaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, sekaligus menjadi kelebihan mereka. Mereka yang selalu dipandang sebelah mata oleh ribuan pasang mata di negeri ini. Tetap bersinarlah dian dan kejarlah impian muliamu!

Aku Pasti Bisa!
By. Miss Maya


Na na na,,, Na na na,,,
Na na na,,, Na na na,,,

Kata orang hidup tidak mudah
harus punya uang serba bisa
kata orang mustahil ku bisa
raih cita, dan jadi juara
Ketika hidup tidak mengijinkan untuk memilih
Bridge
mereka tidak tahu, aku berbeda
mereka tidak tahu, aku punya semangat
Reff :
Aku bisa, aku pasti bisa, jadi anak luar biasa
Aku bisa, ku yakin ku bisa, karena aku anak yang berbeda
Aku bisa, aku pasti bisa, jadi anak luar biasa
Aku bisa, ku yakin ku bisa, karena aku dicipta SEMPURNA

(Sebuah lagu yang didedikasikan untuk anak-anak bangsa yang harus berjuang keras untuk setiap impian dan cita-cita dalam hidupnya)

By : Rio Salomo Sidauruk
23 Juli 2011 (tepat di Hari Anak Nasional)

Minggu, 20 Februari 2011

21 pada 21

Angka 21 selalu mengingatkanku pada diriku sendiri. Dan tepat di hari ini, berdiri tegap untuk 21 dan baru saja meninggalkan 20. Bersyukur. Ya, sangat bersyukur bahkan. Tiada terukur dan terselami berkat-Nya yang kurasakan. Kertas ini sudah tidak lagi tak berharga. Dan ini adalah karena kasih-Nya kepadaku. Hidupku bukan semata buatku lagi. Tidak berfokus semata hanya pada ‘aku’.

Memandang dan memahami itulah yang terpelajari dalam bersit hati. Ketika aku dikelilingi hangatnya sorotan mata hati. Ketika aku bertarung dengan apa yang menjadi masalahku dan akhirnya aku menang untuk itu. Great! Aku ada karena Dia yang ada di depanku. Dan aku ada karena mereka yang ada dibelakangku. Aku hebat bukan hanya karena ‘aku’, tapi karena dukungan itu! Terima kasih untuk segala sesuatunya. Terlalu meluap terima kasih untuk SEMUA ORANG HEBAT yang pernah dan sekarang ada dalam hidupku.

Bertambah satu atau malah berkurang satu? Hal yang cukup sering diperdebatkan. Ahh, apapun itu, bukan perkara bertambah atau berkurang, tetapi ini menyangkut maju atau mundur. Bukan ingin menghitung, tapi hendak mengukur. Jelas beda! Ketika aku menghitung bertambah atau berkurang, aku akan kehilangan langkah untuk maju dan aku beranjak untuk mundur! Tak peduli dengan bertambah atau berkurang, hanya ingin maju! Dan melesat!

“Tua itu keharusan, dewasa itu pilihan”
Quote yang sangat sering terkumandangkan. Makna imbuhan ter- ini adalah “tidak sengaja di-”. Pilihan untuk menentukan sekarang atau nanti atau bahkan tidak akan. Dan dengan lantang harus berkata “Sekarang”. Belajar lebih lagi dari alam, belajar lebih lagi dari mereka. Proses ini yang tidak akan pernah berhenti. Ya, semua itu perlu proses! “21 pada 21” bukan sekedar istilah, tapi menjadi acuan!

By : Rio Salomo Sidauruk
Tepat di umur 21 pada 21 Februari 2011

Kamis, 03 Februari 2011

Bangun Tembokku!

Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini jadi pengen sering nulis. Emang benar nulis itu cara yang cukup ampuh buat meluapkan semuanya. Terkadang hidup itu emang butuh waktu untuk sendiri, tak ayal ketika perasaan benar-benar didera hal yang cukup mengacaukan pikiran dan perasaan. Oke, ‘perasaan’ apa itu sebenarnya. Hal ini sudah terulang untuk kedua kalinya. Sangat tepat untuk kedua kalinya. Dan aku tidak mempermasalahkan masalah yang sebenarnya menjadi masalah! Ribet!

Tepat semalam ada sebuah kata yang terlontar dari mulut, dan hari ini semua secara ‘tepat’ juga terjadi. Seakan praktek memaksakan teori untuk ikut serta dan berperan di dalamnya. Segala sesuatu emang bisa terjadi begitu saja. Ketika ditanya ‘kenapa’, jawaban klise muncul kembali ‘I’m fine!’. Ya, muncul kembali dan begitu saja! Hanya tidak ingin segala sesuatu terungkap secara perlahan dan kemudian sederas arus.

“Hidup emang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, dan proses untuk menerima hasil akhir tersebut itulah tingkat kedewasaan” - Rio Salomo

Keterbukaan
. Kata ini lagi-lagi menjadi kambing hitam ketika ada hal-hal yang bersinggungan dengan perasaan. Semudah itukah terbuka? Ketika keterbukaan itu harus melukai semua sisi? Terbuka antar sahabat. Emang sahabat ketika itu tertutup? Tertutup secara pribadi? Dan ini memaksa untuk meluapkan segalanya. Apa daya ketika mulut hanya ingin untuk membungkam saja. Salahkah ia? Tak akan goyangkan loncengnya, tak ingin ia mendera.

Ini semua menyangkut masalah aku dan mereka. Ya, mereka! Gak akan ada guna berteriak, biar ini semua terpendam bersama arus kuat diluar sana. Aku bahagia ketika mereka bahagia. Thanx!

Rio Salomo Sidauruk
3 Februari 2011

Rabu, 02 Februari 2011

Memang Pilihan? Atau Memang Pilihan!

Berbicara soal cinta nggak hanya untuk kalangan remaja yang baru aja menginjak masa puber. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap saat dan semua orang juga bisa bersinggungan dengan yang namanya cinta. Tak banyak orang mampu memastikan bahwa cinta itu adalah cinta yang tepat untuknya. Tak ayal pula seseorang dapat melakukan hal konyol hanya karena cinta. “Hal konyol” terlalu klise kah kata-kata ini? Atau hanya efek dari cinta, atau malah cinta merupakan efek dari “kekonyolan” itu?

Bingung. Emang tidak semudah matahari mengitari bumi untuk mendeskripsikan cinta. Makna cinta berbeda bagi setiap orang. Tak dapat mendesak makna cintaku untuk mereka, begitupun sebaliknya. Cinta itu rasa pribadi, bukan pengalaman ‘mereka’. Bulan ini identik dengan bulan cinta, sangat bahkan. Dan apakah bulan lain tidak ada cinta? Ya, itu hanya bergerak dari kebiasaan, kebiasaan memeriahkan hari ‘Valentine’.

Hidup tanpa cinta adalah hampa, tapi cinta tanpa hidup adalah omong kosong. Terlalu banyak istilah untuk cinta. Terlalu rumitkah itu? Atau bahkan ini semua terlalu simpel? Nyatanya banyak orang ‘dipecundangi’ oleh cinta. Tapi tak sedikit pula insan yang ‘mempecundangi’ cinta. Apakah cinta itu hanya untuk mencari pengalaman? Atau hanya berbicara bahwa ‘sengatan’ sesaat, kemudian tidak? Cinta tidak hanya seperti siklus pelana kuda, awalnya biasa saja, dan semakin meninggi lalu akhirnya turun. Lagi, cinta itu adalah warna. So, tentukan warnamu sendiri untuk hidupmu! Dan ini semua kembali pada pilihanmu!

Minggu, 12 September 2010

Mau Kemana Lagi Aku?


 “Mau ngelanjut ke mana nanti setelah tamat SMA?”.
Mungkin kata-kata ini sangat bersahabat buat anak-anak SMA yang berada di kelas XII. Tanpa kita sadari, hal ini juga lah yang  menuntut setiap lulusan SMA untuk mulai belajar menentukan pilihan untuk hidupnya ke depan. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa masa-masa peralihan dari SMA ke jenjang berikutnya adalah pintu awal untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kuliah atau bekerja?

Banyak siswa yang terlalu terlena dengan kondisi sekolah, dan tidak sedikit pula yang kewalahan untuk menemukan jawaban ‘Mau kemana lagi aku?’ setelah tamat dari jenjang SMA. Mengikuti ujian masuk perguruan tinggi hanya menjadi angin yang akan membawakan kaki kemana melangkah. Asal lulus saja, aku akan mengambilnya. Tak jarang pula, mantan siswa menjadi linglung, hanya karena jurusan itu bukan jurusan minatnya.

Pilihan hanya dua saat salah masuk ruang jurusan, maju melawan arus dan berjuang keras atau menyerah dengan kerat pintu dan mencoba lagi ketidakpastian yang akan ditawarkan. Bahkan trend ikut arus dijadikan alasan seseorang untuk masuk ke dalam jurusan di Perguruan Tinggi, “Si A setelah tamat dari jurusan itu, jadi orang kaya, sukses lagi.”

Kurangnya penanaman pentingnya long time planning setelah tamat SMA inilah yang menyebabkan calon orang tidak memiliki panduan hidup. Waktu yang dikatakan terlalu singkat juga sering dikambinghitamkan agar persiapannya yang minim dapat menang dalam sekejap. Saat perpindahan dari celana biru pendek ke jenjang celana abu-abu panjang, pada saat itu jugalah harusnya kita membuat long time planning setelah tamat SMA. Jadi apapun kita, tanpa persiapan sama saja seperti bulu yang diterbangkan angin, sebentar disini, sebentar disana, lalu hilang lenyap.

Rabu, 11 Agustus 2010

Bung Karno Putra Sang Fajar

“Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri. Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.” Ir. Soekarno menuturkan kepada penulis otobiografinya, Cindy Adam.
Putra sang fajar yang lahir di Blitar, 6 Juni 1901 dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai, diberi nama kecil, Koesno. Ir. Soekarno, 44 tahun kemudian, menguak fajar kemerdekaan Indonesia setelah lebih dari tiga setengah abad ditindas oleh penjajah-penjajah asing. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.

Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut, tulisan pertamanya (1926), berjudul, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxism, bagian paling menarik untuk memahami gelora muda Bung Karno.

Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah persiapan yang cukup panjang, dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Drs Muhammad Hatta, mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No. 52 (sekarang Jln. Proklamasi), Jakarta. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Fase pertama pemerintahan Presiden Soekarno (1945-1959) diwarnai semangat revolusioner, serta dipenuhi kemelut politik dan keamanan. Belum genap setahun menganut sistem presidensial sebagaimana yang diamanatkan UUD 1945, pemerintahan Bung Karno tergelincir ke sistem semi parlementer. Pada fase kedua kepemimpinannya, 1959-1967, Bung Karno menerapkan demokrasi terpimpin. Semua anggota DPRGR dan MPRS diangkat untuk mendukung program pemerintahannya yang lebih fokus pada bidang politik. Bung Karno berusaha keras menggiring partai-partai politik ke dalam ideologisasi NASAKOM—Nasional, Agama dan Komunis.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pemberontakan G-30-S/PKI yang melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatan Bung Karno yang saat itu terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi". (Dari berbagai sumber)

Senin, 09 Agustus 2010

Lemahku, KAU kuatku

Bapa kuperlu Engkau
Aku selalu terjatuh dan terhilang
Takkan mampu kuberjalan sendiri
Terlalu lemah untuk melangkah seorang diri
Tapi satu hal yang pasti
Jalanku takkan sesulit yang kubayangkan
Karena kuyakin Allah besertaku
Memegang erat tanganku
Memberi hidup dan ketenangan
Hidupku itulah persembahanku di hadiratMu
Hidup yang Allah berikan kepadaku
Akan kukembalikan untuk Allahku
Untuk kemuliaan namaMu, Bapa

Rio Salomo Sidauruk
15 Juli 2009
10 A.M